Asli.

Saya (antara) paham dan nggak paham penggunaan “galau” yang menjadi tren dalam kehidupan anak muda jaman sekarang.

Blog-walking menggunakan tag galau di WordPress menunjukkan bahwa “galau” merupakan salah satu pemicu kreativitas dalam menulis, umumnya curahan hati terdalam tentang “kamu” dan “dia”. Salut, deh! Karenanya saya menduga-duga kata “galau” menjadi blanket term untuk menjelaskan rasa resah dan gelisah karena sesuatu yang tidak diketahui atau yang diketahui tapi tidak diakui atau pura-pura tidak diketahui.

Sudah banyak kata dan istilah yang sempat tren kemudian berlalu ditelan jaman. Hmm… berapa lama “galau” dan penggunaannya akan bertahan? Apa penggantinya nanti, ya?

‘Au ah gelap!