Ada beragam alasan orang melakukan perjalanan. Namun satu alasan yang selalu membuat saya iri: perjalanan pencarian diri untuk memurnikan jiwa seperti yang dilakukan Sang Musafir dalam buku karya Sadik Yalsizuçanlar ini.

Ini adalah buku pertama yang saya beli di tahun 2015. Saat menghabiskan waktu di Togamas Bandung, saya mengamati beragam buku baru yang ada di bagian best sellers. Di antara buku-buku tentang travelling atau jalan-jalan ke luar negeri tampaklah buku ini yang menyematkan kutipan pengantar oleh Dr. Haidar Bagir, … melancong ke dalam batin terdalam manusia, batin Sang Musafir, batin kita semua. Langsung aja saya ambil.

Cover buku “Sang Musafir” terbitan Mizan (sumber gambar: Mizan Store)

Sang Musafir diangkat dari kisah hidup Ibn Al ‘Arabi, sufi terkenal yang lahir di Seville Andalusia dan wafat di Fez Maroko (469 – 543 Hijriyah). Buku ini menceritakan perjalanan Ibn Al ‘Arabi menuntut dan mengamalkan ilmu juga perjalanan spiritualnya. Cerita disampaikan sebagai penggalan-penggalan kisah, tidak tersusun secara kronologis, bahkan kadang seperti fantasi dan imajinasi. Namun satu tema kuat dalam tiap cerita tersebut adalah pencarian cinta.

Saya mengalami kesulitan saat mulai membaca buku ini. Butuh waktu agak lama untuk menenggelamkan diri dalam aliran dan ritmenya. Apakah karena buku ini adalah terjemahan sehingga gaya bertutur asli Sadik Yalsizuçanlar, sang penulis yang berasal dari Turki, tidak bisa sepenuhnya ditangkap dan dihadirkan dalam bahasa Indonesia? Atau apakah ini merupakan terjemahan dari terjemahan dari terjemahan? Karena saya tidak bisa berbahasa Turki, saya mencari versi bahasa Inggris sebagai perbandingan dan menemukan sebagian terjemahan bahasa Inggris di situs sang penulis.

Dari perbandingan tersebut, ada beberapa pilihan penerjemahan yang disayangkan. Ada pemilihan kata-kata yang buat saya terasa tidak alami. Misalnya pada bab “Pena Buluh” (Quill), Ketika ia mengharapkan sesuatu, itu terjadi melalui kekuasaannya yang bijak dan telah terbukti, harta karun kekalnya, dan kebijaksanaan misteriusnya yang dalam terjemahan bahasa Inggris tertulis When he wished for something, it occured through his proven and prudent power, his endless treasure, and his mysterious wisdom. Saya mungkin akan menerjemahkan seperti ini, Saat ia menginginkan sesuatu, itu muncul dari kemampuannya yang cermat dan telah terbukti, kekayaannya yang tak berbatas, and kearifannya yang penuh misteri.

Atau pada bagian “Para Pendahulu” (pendahulu digunakan untuk padanan superior), Since the beginning of his journey, he had been troubled with cravings of the flesh. diterjemahkan menjadi Sejak awal perjalanan, ia mendapat masalah dengan keinginan daging. Mengapa harus keinginan daging ya? Bukan hasrat ragawi atau nafsu jasmani? Padahal masih dalam paragraf yang sama dijabarkan tentang nafs, nafsu.

Memang sih, setelah terbiasa (mengabaikannya), novel ini bisa agak dinikmati. Meski akhirnya saya lebih tertarik membaca terjemahan bahasa Inggris.

Keputusan penerjemahan yang paling saya sayangkan adalah pelekatan Ibn Al ‘Arabi langsung untuk menggantikan Sang Musafir (The Traveler), kecuali pada cerita pertama tentang pertemuan Sang Musafir dan Sang Filsuf. Tentu bukan tanpa alasan kalau dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, The Traveler dipertahankan tanpa nama. Seperti kutipan pengantar Dr. Haidar Bagir, Sang Musafir bisa jadi sebenarnya adalah kita semua, ia mewakili pembaca.

Meskipun pikiran-pikiran Al ‘Arabi banyak mengundang perdebatan intelektual, perjalanan dan pengalaman hidupnya untuk mencari pengetahuan tentang Sang Pencipta sepatutnya mengingatkan kita tentang perjalanan kita sendiri. Ini tentang kerinduan yang dalam pada sesuatu yang tidak bisa dikatakan, yang menggerakkan jiwa dan raga untuk mencari dan menemukan Sang Kekasih. Demikian yang tampaknya ingin disampaikan buku ini. Sayangnya, perasaan itu tidak sepenuhnya sampai karena terhalang bahasa.